Di Desa Guwosari, lahan yang sebelumnya kurang optimal kini dimanfaatkan untuk menanam tanaman obat keluarga (TOGA). Kafe JAMUSARI hadir sebagai wujud kolaborasi antara kearifan lokal dan inovasi generasi muda, mengubah tradisi menjadi pengalaman jamu modern yang menyenangkan dan berakar pada budaya lokal.
Di Desa Kadisono, tanaman seperti kunyit, jahe, temulawak, sereh, dan bunga telang kini diolah menjadi racikan jamu modern yang menyehatkan sekaligus menyenangkan untuk dinikmati. Proses ini bukan hanya soal minuman, tapi juga tentang menghidupkan kembali potensi lokal, memberi makna baru bagi masyarakat, dan merayakan kreativitas generasi muda.
Setiap cangkir di JAMUSARI membawa cerita — aroma jahe yang hangat, warna alami bunga telang yang menenangkan, dan rasa segar dari sereh dan temulawak. Menu kami dirancang untuk menghadirkan pengalaman multisensori: bukan sekadar minum jamu, tapi merasakan perjalanan dari bahan lokal hingga racikan modern di kafe. Pengunjung juga dapat menikmati suasana yang nyaman dan estetik, di mana setiap detail — dari gelas hingga dekorasi — mencerminkan harmoni antara alam dan kreativitas.
Kafe JAMUSARI menjadi titik temu antara tradisi dan inovasi, melalui kolaborasi seluruh perangkat desa dan generasi muda. Kesegaran bahan lokal yang ramah lingkungan dipadukan dengan inovasi rasa dan presentasi modern, sehingga setiap gelas jamu menjadi simbol harmoni antara alam, budaya, dan kreativitas masa kini.
Dari TOGA ke cangkir, JAMUSARI membuktikan bahwa warisan tanaman obat keluarga dapat diolah menjadi pengalaman baru yang menyenangkan, inspiratif, dan penuh makna — tidak hanya bagi tubuh, tapi juga bagi semangat dan kreativitas lokal.

